VIDEO PORNO, antara pelaku dan korban

Kalau dengar soal video porno alias bokep, mungkin udah nggak aneh. Tapi kalau bokepnya bikinan teman-teman pelajar seumuran kita, trus satu sekolahan lagi, wah… kedengarannya pasti luar biasa, (atau sudah bisasa? Separah itukah?).

Nah, diantara kita, bisa jadi ada yang menyayangkan. Ada yang berfikir, kenapa mereka ngga jadi artis aja sekalian, biar bisa mancogok di infotainment setiap hari. Tapi  banyak juga yang barangkali miris. Kok tega ya (teganya teganya…. ndang dut!) ngejelekin sekolahnya ndiri, plus diri dan keluarganya juga.

Well, …. Ngga cuma kita lho yang heboh soal ini! Banyak pihak yang juga ikut pusing, ya orang tua, sekolah, dan pemerintah. Namun, seringnya kita-kitalah para remaja yang disalahkan, distempel NAKAL! Wah…. Adil nggak sih? Nah, untuk menjawabnya, CARE FORCE, sebagai sebuah gerakan remaja di Sumatera Barat merasa perlu buat membahas ini.

CARE FORCE sepakat bahwa maraknya VIDEO PORNO buatan pelajar di Sumatera Barat membuktikan sebuah kegagalan yang menyeluruh dari sistem pendidikan yang ada (dimulai dari keluarga, sekolah, lingkungan, media, hingga pada kebijakan pemerintah). Remaja yang terlibat sebenarnya korban dari kegagalan keseluruhan sistem tersebut, seperti ortu yang tidak cukup perhatian ke anaknya, sekolah yang lebih menekankan pada olah otak aja, kebijakan pemerintah yang tidak menyentuh kebutuhan remaja, ditambah dengan pengaruh media yang tidak mempertimbangkan dampak tayangan dan pemberitaanya yang berbau pornografi, termasuk juga lingkungan pertemanan yang tidak mau tahu.

Nah karenanya, semua pihak harus berani bersikap ksatria untuk bertanggung jawab atas perbuatan teman-teman tersebut. Bukan kemudian lari dari masalah. CATET! Mengeluarkan siswa dari sekolah bukanlah sebuah tindakan yang bijak. Sekolah mestinya melakukan tindakan yang lebih signifikan ke dalam dengan memikirkan sebuah program khusus dan melihat akar persoalan yang lebih mendasar dari fenomena ini. Sekolah mesti memikirkan asupan apa yang selama ini terlewatkan dari setumpuk beban kurikulum siswanya. Faktanya, fenomena pembuatan video porno ini selalu menjadi kasus klasik yang berulang setiap tahun, dan sekolah selalu mengambil tindakan ‘tak mau tahu’ dengan mengeluarkan siswa dan menganggap masalahnya beres res res res….

Teman-teman remaja yang terlibat sepatutnya mendapatkan penanganan yang ‘ramah’, dengan tidak mengabaikan hak-hak tumbuh kembangnya sebagai remaja dan kesempatannya mendapatkan masa depan yang diinginkan. Mereka seharusnya tidak dikucilkan atau dianggap sebagai anak muda yang ‘gagal’ karena jika ingin dibahasakan ‘gagal’, kita sebagai teman sebenarnya juga gagal dalam tanggung jawab sosial untuk mengajak mereka pada pergaulan positif dan melakukan kontrol sosial.

CARE FORCE merasa perlu ada sebuah program bimbingan khusus yang ramah remaja terhadap teman-teman pelaku (baik si pembuat maupun yang menyebarkan) tanpa melupakan materi penting seperti pengetahuan konsep diri dan kesehatan reproduksi serta keterampilan untuk menolak pengaruh negatif dalam pergaulan.

By the way…. Bukan cuma pelaku aja lho, semua remaja seperti kita mestinya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan tersebut. Gimana kalau kita semua mendorong pihak sekolah agar menfasilitasi pelatihan yang menekankan pengetahuan konsep diri dan kesehatan reproduksi serta keterampilan untuk menolak pengaruh negatif dalam pergaulan. Setujukan?! (Gama)

Leave a Reply