Archive for April, 2008

Masturbasi, antara boleh dan tidak…

Posted in Uncategorized on April 11, 2008 by careforce

Masturbasi, antara boleh dan tidak…

 

 

Masturbasi adalah rangsangan disengaja yang dilakukan pada organ genital / kelamin untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual yang biasanya sampai pada tahap orgasme. Menurut situs infokespro, hal ini sekali-sekali dilakukan oleh sebagian besar pria maupun wanita. Pada sebuah penelitian terungkap bahwa 95 persen pria dan 89 persen wanita dilaporkan pernah melakukan masturbasi.

Remaja tentunya termasuk ke dalam kelompok umur yang rentan untuk melakukan ini. Masa remaja adalah masa dimana banyak orang mulai mencoba bereksprimen dengan seksualitas mereka, salah satunya dengan melakukan masturbasi. Namun, secara umum, masturbasi yang biasa juga disebut, onani, coli, seks swalayan atau ngocok lebih sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang jelek.

Banyak mitos yang tidak benar tentang mastubasi, seperti mastubasi bisa mengakibatkan kebutaan, gila, tempurung lutut kering, bahkan kematian dan lain-lain. Mitos-mitos tersebut tidaklah benar. Beberapa sumber justru menyebutkan bahwa masturbasi adalah cara yang aman untuk menyalurkan hasrat seksual, sepanjang dilakukan dengan perlengkapan yang steril.

Lalu bagaimana CARE FORCE memandang masturbasi? Pertama, masturbasi terkait dengan hasrat seksual. Hasrat seksual adalah sebuah anugerah yang pada umumnya dimiliki oleh semua orang dan semestinya disyukuri. Namun apakah hasrat tersebut harus selalu disalurkan pada setiap kali ia terpicu? CARE FORCE sepakat bahwa hasrat seksual dapat dikontrol. Artinya melakukan masturbasi bukan sebuah keharusan, karena keinginan tersebut dapat dialihkan dengan pikiran dan kegiatan lain.

Secara pribadi masing-masing orang mestinya mengenali apa yang dapat memicu hasrat seksual mereka. Untuk itu saatnya bijak dengan tidak memamerkan atau mendekati objek-objek yang dapat merangsang hasrat seksual jika masturbasi dinilai tidak tepat dilakukan pada saat tersebut.

CARE FORCE sepakat bahwa masturbasi tidak berpengaruh jelek terhadap kesehatan sepanjang dilakukan dengan benda atau perlengkapan yang steril. Hal yang perlu diingat adalah melakukannya pada kondisi yang tepat. Efek dari masturbasi biasanya hanyalah kelelahan. Untuk itu perlu ada pertimbangan sebelum melakukannya. Seperti saat musim ujian, apakah tepat untuk melakukan masturbasi?  

CARE FORCE menyadari keputusan untuk melakukan masturbasi ada ditangan masing-masing individu. Memutuskan untuk tidak ingin melakukan masturbasi bukanlah keputusan yang aneh, apalagi salah, dan sebaliknya. Semuanya ada ditangan kita. Namun kekayaan informasi, baik dari aspek medis, social, dan juga keagamaan biasanya akan mempengaruhi keputusan seseorang. CARE FORCE mendorong teman-teman remaja untuk mencari sebanyak mungkin informasi yang benar seputar masturbasi hingga kemudian membuat keputusan yang tepat bagi dirinya. (Gama)   

KEPERAWANAN

Posted in Uncategorized on April 11, 2008 by careforce

 

Faktanya, kebanyakan teman-teman setuju bahwa keperawanan dan keperjakaan dari pasangan mereka penting. By the way, keperawanan itu apa seh???

Sebagian besar dari kita ternyata masih banyak yang mengidentikkan keperawanan dengan keluarnya darah pada vagina perempuan saat pertama kali berhubungan seks intercourse. Alasannya, karena pada saat pertama kali berhubungan selaput dara perempuan akan pecah itu. Padahal faktanya secara medis, robeknya selaput dara tidak harus diikuti dengan keluarnya bercak darah. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya :

1. Terlalu rapuh

Bisa jadi selaput dara itu sudah robek sebelumnya karena terlalu rapuh. Beberapa jenis olahraga seperti berkuda, bela diri, bersepeda dan sebagainya bisa menjadi penyebab robeknya selaput dara. Apalagi kalau selaput darahnya termasuk jenis yang rapuh.

2. Kelewat elastis

Tidak adanya bercak darah di malam pertama mungkin saja disebabkan belum robeknya selaput dara karena sifatnya sangat elastis. Harap diketahui, membran ini sangat fleksibel. Pada beberapa kasus ditemukan bahwa elastisitas selaput dara memungkinkannya tidak robek pada waktu pertama kali berhubungan seksual. Bahkan ada yang baru koyak setelah wanita tersebut melahirkan!

3. Darahnya tidak banyak

Atau bisa saja sebenarnya keluar bercak darah, tapi karena sangat sedikit sehingga tidak mudah terlihat oleh mata. Banyak orang yang mengira kalau selaput dara robek akan keluar banyak darah. Padahal karena sedemikian tipisnya, selaput darah yang robek tidak selalu menyebabkan keluar darah dalam jumlah banyak.

4. Tidak punya selaput darah

Perkembangan teknologi memungkinkan dilakukannya penelitian tentang selaput darah secara mendalam. Hasilnya ternyata sangat mengejutkan karena dalam penelitian yang dilakukan para seksolog ditemukan beberapa perempuan yang sejak lahir memang tidak memiliki membran ini. Pada kasus ini keberadaan selaput dara tidak selalu membuktikan bahwa perempuan belum pernah melakukan hubungan seksual masih teruji kegadisannya.

Well, untuk itu CARE FORCE menolak segala bentuk mitos yang berkembang selama ini yang jelas tidak adil bagi perempuan. Termasuk soal status keperawanan yang bisa dilihat dari penampilan fisik. Menurut CARE FORCE, masih perawanan atau  perjaka  adalah keadaan dimana seseorang belum pernah melakukan kegiatan seksual (seperti ciuman yang dalam, petting, necking) dan hubungan seksual (intercourse) dengan lawan jenis ataupun sesama jenis secara sengaja dan sadar. 

So, keperawanan (dan keperjakaan) kita lebih ditentukan dari perilaku! Yeah… cuma yang kita dan Tuhan yang tahu bahwa kita masih perawan atau perjaka. Untuk itu, si cowok dan cewek sama-sama bertanggung jawab untuk menjaga keperawanan dan keperjakaan pasangannya. Setujukan?!